Senin, 07 Mei 2012

HUBUNGAN SOSIAL


HUBUNGAN SOSIAL
Standar Kompetensi   : 6. Memahami Pranata Dan Penyimpangan Sosial.
Kompetensi Dasar       :  6.1. Mendeskripsikan Bentuk-Bentuk Hubungan Sosial

Indikator                     : Setelah Mempelajari Materi Ini Siswa Diharapkan Mampu:
1.      Mengidentifikasi dampak-dampak  positif dan negatif bentuk-bentuk hubungan sosial.
2.      Mengidentifikasi factor-faktor pendorong terjadinya hubungan social.
3.      Mengidentifikasi factor-faktor pendorong terjadinya hubungan social.

A.    PENGERTIAN HUBUNGAN SOSIAL
Pengertian hubungan sosial menunjukan adanya interaksi antar manusia. Menurut Gillin Dan Gillin, hubungan sosial adalah hubungan yang dinamis yang menyangkut hubungan antar individu, antar kelompok, antar orang dengan kelompok.
Proses hubungan sosial dapat terjadi secara langsung dengan tatap muka maupun secara tidak langsung atau mengunakan media, misalnya telepon, televisi, radio, surat menyurat, dan lain-lain. Proses hubungan sosial akan  terjadi pada saat ada dua individu atau lebih yang saling mengadakan kontak sosial maupun komunikasi.
1.      Syarat-syarat terjadinya hubungan sosial
Syarat-syarat terjadinya hubungan sosial meliputi:
a.       Kontak sosial
Pengertian kontak sosial berasal dari bahasa latin, yaitu cun atau cum yang berarti bersama, dan tango yang berarti menyentuh. Jadi, secara harfiah istilah kontak artinya bersama-sama menyentuh. Dengan demikian, secara fisik suatu kontak akan terjadi apabila terjadi hubungan badaniah.
Namun, dalam gejala sosial pengertian kontak sosial tidak hanya terbatas pada terjalinnya suatu hubungan secara fisik saja. Ketika kita berteriak memanggil teman yang ada di seberang jalan, atau ketika kita sedang menulis atau membaca sms dari orang lain, berarti sudah terjadi kontak sosial. Bahkan kemajuan teknologi juga telah mengubah pengertian kontak sosial, dimana kontak sosial tidak harus terjadi melalui sentuhan fisik.
1.      Berdasarkan proses berlangsungnya, kontak sosial dapat dibedakan menjadi dua yakni :
a.       Kontak primer, terjadi secara langsung bertatap muka, baik melalui persentuhan fisik maupun tidak, misalnya berjabat tangan, berbicara, bahasa isyarat, tersenyum.
b.      Kontak sekunder, terjadi secara tidak langsung menggunakan media tertentu, misalnya melalui tv, telepon,, dan lain-lain.
2.      Berdasarkan jumlah individu yang terlibat didalamnya, kontak sosial dapat dibedakan:
a.       Kontak antar individu, contohnya : kontak guru antar guru, antar penjual dengan pembeli, dan lain-lain.
b.      Kontak antar kelompok, contohnya pertandingan sepak bola yang mempertemukan dua tim sepak bola, pertandingan voli, perlombaan cerdas cermat, dan lain-lain.
c.       Kontak antar individu dengan kelompok. Contohnya guru sedang mengajar murid-muridnya, penceramah dengan peserta seminar, dan lain-lain.

b.      Komunikasi
Komunikasi adalah adanaya tanggapan atau reaksi seseorang terhadap suatu tindakan tertentu dari orang  lain. Dalam hal ini komunikasi  terjadi setelah terjadi kontak sosial. Namun belum tentu terjadi kontak sosial berlanjut pada komunikasi. Ketika kalian melemparkan senyuman kepada seseorang dan orang tersebut tidak menanggapi sama sekali, hal tersebut menunjukan bahwa kontak sosial tidak menghasilkan komunikasi. Jadi, komunikasi lebih menunjukan adanya hubungan timbal balik atau hubungan dua arah antara dua orang yang berperan sebagai komunikator (pemberi pesan) dan penerima pesan.
Komunikasi bisa terjadi seara positif dan negatif. Komunikasi positif jika individu yang saling berkomunikasi menghasilkan bentuk kerjasama. Adapun bentuk komunikasi yang negatif jika individu yang saling berkomunikasi menghasilkan bentuk pertentangan atau permusushan.
2.      Ciri-ciri hubungan sosial
Secara ringkas hubungan sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dapat kita identifikasikan melalui ciri-ciri yang nampak berupa :
a.       Ada pelaku lebih dari satu orang.
b.      Ada tujuan-tujuan tertentu, terlepas dari sama atau tidaknya tujuan tersebut dengan yang diperkirakan pelaku.
c.       Ada komunikasi antar pelaku dengan memakai simbol-simbol dalam bentuk bahasa lisan maupun bahasa isyarat.
d.      Ada dimensi waktu (masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang) yang akan menentukan sikap aksi yang sedang berlangsung.

B.     Bentuk-bentuk hubungan sosial
Menurut Gillin Dan Gillin, terjadinya sebuah hubungan sosial dapat dibedakan menjadi 2, proses sosial assosiatif dan proses sosial dissosiatif.
1.      Proses Sosial Assosiatif
Terjalinnya hubungan sosial yang mengarah pada bentuk jalinan sosial yang erat, saling membutuhkan, dan terbentuk suatu kerjasama merupakan proses sosial assosiatif. Melalui proses assosiatif terjadi kecenderungan terjalinya kesatuan dan meningkatnya solidaritas antar anggota kelompok
Proses assosiatif dapat berbentuk akomodasi, kerjasama, dan asimilasi.
a.       Akomodasi
Akomodasi adalah suatu proses di mana orang perorang atau kelompok manusia yang mula-mula saling bertentangan, kemudian saling mmenyesuaikan diri untuk mengatasi kekurangan-kekurangan.
Akomodasi merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan, sehingga pihak lawan tidak kehilangan pribadinya.
Tujuan akomodasi, antara lain :
1.      Mengurangi pertentangan orang perorang maupun kelompok sebagai akibat perbedaan paham.
2.      Mencegah meledaknya suatu pertentangan untuk sementara waktu.
3.      Memungkinkan kerjasama anatarindividu atau kelompok sosial.
4.      Mengupayakan peleburan antar kelompok sosial yang berbeda.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak cara untuk melakukan akomodasi agar suatu hubungan sosial yang semula diliputi ketegangan dapat berubah menjadi bentuk hubungan sosial yang menyenangkan. Beberapa bentuk-bentuk akomodasi yang dapat kita temukan antara lain :
1.      Arbitrasi (arbitration)
Arbitrasi adalah menyelesaikan suatu perkara atau upaya untuk mengurangi ketegangan dengan melibatkan pihak ketiga yang bersifat netral.
2.      Ajudikasi
Banyak kasus yang dapat diselesaikan secara damai di meja hijau pengadilan. Cara mendamaikan masalah melalui pengadilan tersebut disebut ajudikasi.



3.      Toleransi
Toleransi merupakan bentuk sikap yang muncul secara tidak sadar dan tidak direncanakan yang berypa memaklumi keadaan orang lain sehingga terhindar dari perselisihan. Misalnya saat asyik sedang bermain musik, tiba-tiba tetangga sebelah meninggal dunia, secara spiontan orang yang sedang bermain musik menghentikan permainannya.
Pada hakikatnya toleransi merupakan sikap saling menghargai dan menghormati orang lain, sehingga terjalin hubungan sosial yang menetramkan.
4.      Stalemate
Pasca perang dunia ii berakhir dan sebelum negara uni sovyet runtu, di dunia terdapat dua negara adikuasa, yakni uni sovyet dan amerika serikat. Mereka dikenal sebagai negara super power yang saling bersaing untuk menggungguli kekuatan masing-masing. Namun, karena kekuatan mereka seimbang , mereka justru tidak terlibat perang terbuka,  sehingga lebih dikenal denagn perang dingin (cold war). Mereka dalam keadaan diam tidak saling bertikai karena kekuatan mereka seimbang, keadaan ini disebut stalemate.
5.      Mediasi
Penyelasain permasalahan yang terjadi antar dua individu atau kelompok sosial kadang dapat diselesaikan dengan bantuan pihak ketiga. Misalnya ketegangan yang terusmenerus terjadi antara pemerintah ri dengan gam (gerakan aceh merdeka) akhirnya dapat diselesaikan secara damai setelah melibatkan pihak ketiga, yakni negara swedia yang memberikan fasilitas  bagi terselengaranya pertemuan  antara perwakilan dua kelompok tersebut untuk saling menjalin kesepakatan damai. Upaya perdamaian yang demikian ini disebut mediasi.
Sepintas pengertian mediasi sama dengan arbitrasi. Letak perbedaannya dalah jika mediasi pihak ketiga benar-benar pihak yang netral dan tidak berwenang memberikan keputusan dan hanya sebatas memfasilitasi saja. Adapun pada arbitrasi pihak ketigalah yang mendamaikan /memberikan keputusan damai pada pihak-pihak yang bersengketa.
6.      Coercion
Coercion merupakan cara akomodasi yang dilakukan terhadap pihak yang keadaannya lemah, sehingga mau tidak mau harus tunduk pada pihak yang lebih kuat kedudukannya dan berkuasa atas dirinya. Misalnya pekerja dituntut untuk segera menyelesaikan pekerjaannya, sedangkan majikan tidak segera membayar upah yang menjadi hak pekerja. Meskipun demikian pekerja tidak banyak melakukan protes karena adanya tekanan  jika majikan tidak puas  akan hasil kerjanya akan dikeluarkan dari pekerjaannya. Padahal mencari pekerjaan baru bukan hal mudah. Pekerja terpaksa pasrah meskipun tridak diperlakukan tidak adil. Hal tersebut merupakan contoh coercion, yakni bentuk akomodasi yang terjadi karena faktor paksaan.
7.      Kompromi
Dalam berita kriminal yang ditayangkan televisi, mungkin kalian pernah melihat adanay pertikaian antar buruh dan majikan  yang masing-masing memiliki tuntutan tertentu, sehingga terjadilah aksi unjuk rasa bahkan pemogokan kerja. Pihak penguasa menghendaki  keuntungan yang besar dengan cara menekan upah buruh seminimal mungkin tetapi dengan menuntut buruh  untuk bekerja semaksimimal mungkin. Adapun dari pihak buruh menghendaki upah yang pantas dengan berbagai fasilitas seperti tunjangan hari raya, hak cuti, hak pengobatan,  dan hal-hal lain yang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan . pertikaian terjadi tatkala antara tuntutan keduanya tidak menemui suatu kata sepakat.
Cara terbaik untuk menyelesaikan permasalahan dua kubu yang berbeda kepentingan  tetapi saling ketergantungan ini adalah melalui cara compromise atau kompromi, yaitu masing-masing mengurangi tuntutannya untuk kata seapakat, sehingga perdamaian dapat dicapai.
8.      Konsiliasi (Conciliation)
Pada umumnya, pihak-pihak yang berselisih masing-masing memiliki keinginan tertentu. Untuk mencapai perdamaian dapat dilakukan melalui konsiliasi, yakni mempertemukan  keinginan-keinginan pihak yang berselisih sehingga tercapai persetujuan bersama. Misalnya untuk menyelesaikan pertikaian antara buruh dan pengusaha dibentuk adanya tim kerja yang terdiri dari perwakilan pihak buruh dan pengusaha serta wakil dari pemerintah, dalam hal ini departemen tenaga kerja untuk duduk bersama saling menyelesaikan permasalahan bersama, sehingga tercapai suatu kesepakatan damai.
b.      Kerjasam (Cooperation)
Kerjasama merupakan merupakan proses sosial yang paling utama. Kerjasama adalah suatu usaha bersama antarpribadi, antarkelompok manusia untuk mencapai suatu tujuan secara bersama-sama.
Menurut Charles H. Cooley, kerjasama timbul apabila orang menyadari  mereka memiliki kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian  diri terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut melalui kerjasama. Dengan demikian, dalam kerjasama terdapatnterdapat faktor penting yakni adanya kesadaran terhadap kepentingan-kepentingan dan adanya organisasi untuk mencapai kepentingan tersebut.
Faktor-faktor yang menimbulkan kerjasama antara lain :
1.      Adanya ancama/rintangan dari luar.
2.      Untuk mencari keuntungan pribadi.
3.      Untuk menolong orang lain.
4.      Adanya orientasi perseorangan.
Bentuk-bentuk kerjasama antara lain :
1.      Join venture
Indonesia adalah negara yang kaya sumberdaya alam. Akan tetapi, sumberdaya manusia yang ada belum mampu mengelola kekayaan alam tersebut. Adapun di negara lain memiliki sumberdaya manusia yang berkualitas yang mampu mengelola simber daya alam tersebut, maka terjalinlah kerjasama antar dua negara yang bertujuan mengelola sumber kekayaan alam, dimana indonesia menyediakan lahan alamnya untuk diekploitasi, sedangkan negara asing menyediakan tenaga ahli yang mengerjakan proyek eksploitasi alam tersebut.
Kerjasama tersebut dikatagorikan  sebagai bentuk join venture yakni kerjasama dalam bentuk penguasaan proyek-proyek tertentu dengan perjanjian pembagian keuntungan menurut proporsi-proporsi tertentu. Join venture bukan hanyamelibatkan kerjasama antara negara, melainkan bisa juga beberapa perusahaan yang ada  di dalam negeri yang sama-sama mengusahakan suatu proyek secara patungan.
2.      Kerukunan/Gotong Royong
Kerukunan atau gotong royong merupakan  bentuk kerjasama yang dilandasi rasa kesadaran yang tinggi sebagai anggota masyarakatuntuk bersama-sama membantu kesulitan orang lain secara iklas.
Hal yang membedakan kerukunan/gotong royong dengan bentuk kerja sama lainnya dalah  bahwa dalam kerukunan/gotong royong dilandasi oleh rasa kesadaran   yang iklas sebagai mahluk sosial dan tanpa dilatarbelakangi oleh pamrih keuntungan material. Masyarakat masih tetap mempertahankan  nilai-nilai kerukunan/gotong royong melalui kegiatan kerja bakti.
3.      Bargaining
Bargaining merupakan proses kerja sama dalam bentuk perjanjian pertukaran barang dan jasa antara dua organisasi/lembaga. Misalnya gedung sekolah di dekat pusat perbelanjaan memang sangat tidak mendukung kegiatan belajar mengajar, karena suasananya pasti bising dan siswa tertarik untuk menghabiskan waktu luangnya di pusat-pusat perbelanjaan. Maka kebijaksanaan pun muncul, sekolah dipindahkan keluar kota yang keadaanya relatif sepi, jauh dari kebisingan sehingga cocok untuk bekajar. Adapun areal berdirinya gedung sekolah akan dibangun mall, sehingga terjadilah tukar giling antara pengusaha mall dengan pemerintah. Pengusaha memperoleh tempat usaha yang strategis, sedangkan pemerintah memperoleh tempat yang sesuai untuk belajar. Proses tukar giling inilah sebagai contoh kerjasama yang disebut bergaining.
4.      Cooperation
Cooperation merupakan bentuk kerjasama yang dilakukan dengan cara menerima unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasisebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya keguncangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan. Misalnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan, pemerintah mengganti model kurikulum yang lama dengan menerapkan sistem kurikulum yang baru.
5.      Koalisi
Pada masa mendekati pemilu, pada umumnya partai-partai politik saling berusaha untuk menggalang kekuatan agardapat merebut kemenangan. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meraih kemenangan adalah dengan melakukan koalisi yakni menggabungkan dua organisasiatau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan yang sama.
c.       Asimilasi
Asimilasi adalah proses sosial yang tinbul apabila kelompok masyarakat dengan latar belakang kehidupan yang berbeda saling bergaul secara interaktif dalam jangka waktu yang lama. Akibat dari asimilasi adalah kebudayaan asli akan berubah sifat dan wujudnya membentuk kebudayaan baruyang merupakan penyatuan kebudayaan dan masyarakat dengan tidak membedakan antara masyarakat lama dengan masyarakat baru. Dalam proses asimilasi m,ereka mengidentifikasikan diri dengan kepentingan dan tujuan kelompok. Apabila ada 2 kelompok mengadakan asimilasi, maka batas antar kelompok akan hilang.
Syarat-syarat timbulnya asimilasi :
1.      Kebudayaan dari masing-masing kelompok berubah dan saling menyesuaikan diri.
2.      Kelompok-kelompok manusia yang berbeda kebudayaan.
3.      Orang perorang sebagai kelompoknsaling bergaul dalam waktu yang lama.
Faktor-faktor yang mempengaruhi aimilasi antara lain :
1.      Toleransi.
2.      Kesempatan-kesempatan yang seimbang di bidang ekonomi.
3.      Sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya.
4.      Sikap terbuka dari orang yang berkuasab dalam masyarakat.
5.      Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan.
6.      Perkawinan campuran.
7.      Adanya musuh bersama dari luar.
2.      Proses sosial dissosiatif
Hubungan sosial yang berakhir dengan permusuhan atau pertikaian merupakan salah satu bentuk hubungan dissosiatif. Proses dissosiatif disebut juga “opositional proceses”, yaitu proses sosial yang cenderung membawa kelompok ke arah perpecahan dan merenggangkan solidaritas kelompok.
Proses dissosiatif ada 3 bentuk, yaitu persaingan, pertentangan, dan kontravensi.
a.       Persaingan/kompetisi
Persaingan adalah proses sosial di mana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum tanpa menggunakan ancaman atau kekerasan.
Persaingan mempunyai 2 tipe, yaitu persaingan yang bersifat pribadi dan yang bersifat kelompok.
1.      Persaingan bersifat pribadi (rivalry)
Dalam sebuah organisasi sering terjadi persaingan yang bersifat pribadi baik secara terbuka maupun secara tersembunyi (diam-diam) untuk memperebutkan kedudukan tertentu. Demikian pula dilingkungan sekolah, setiap siswa bersaing ketat untuk meraih peringkat tertinggi dalam perolehan nilai rapor.
Persaingan pribadi yang berlangsung secara sehat dapat meningkatkan motivasi seseorang untuk meraih prestasi semaksimal mungkin. Namun, jika persaingan dilakukan secara tidak sehat yang terjadi adalah permusuhan, sehingga hubungan sosial tidak harmonis.
2.      Persaingan bersifat kelompok
Persaingan bukan hanya terjadi antarindividu melainkan bisa juga terjadi antarkelompok. Misalkan perusahaan-perusahaan sejenis saling bersaing untuk memperebutkan wilayah pemasaran seluas-luasnya.
Terjadinya persaingan dalam kehidupan masyarakat akan mengakibatkan :
1.      Timbulnya solidaritas kelompok.
2.      Timbulnya perubahan sikap baik positif maupun negatif.
3.      Kerusakan atau hilangnya harta benda maupun nyawa jika terjadi benturan fisik.
4.      Terjadinya negosiasi di antara pihak-pihak yang bertikai.

b.      Pertentangan/konflik
Persaingan yang semakin ketat dalam masyarakat menyebabkan munculnya pertentangan atau konflik, baik yang berlangsung antar individu m,aupun antar kelompok sosial. Pertentangan terjadi karena adanya perbedaan-perbedaan pada sikap pribadi, diantaranya adalah sebagai berikut.
1.      Perbedaan antar individu
Sikap individu memiliki sifat khas yang berbeda dengan individu yang lainnya. Bahkan dalam satu keluarga sekandung pun tidak menutup kemungkinan terdapat perbedaan sifat atau karakter. Adanay perbedaan sifat inilah yang sering memicu terjadinya konfling atau pertentangan. Apalagi jika masing-masingmerasa paling benar dan tidalk ada yang mau mengalah. Perbedaan individu ini bisa menyangkut masalah perbedaan pandangan, prinsip, tujuan hidup, dan cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan.

2.      Perbedaan antar kebudayaan
Masing-masing suku bangsa atau kelompok masyarakat memiliki kebudayaan yang khas. Kebudayaan masyarakat pedesaan berbeda dengan masyarakat perkotaan. Demikian pula kebudayaan daerah kota yang satudengan daerah kota yang lain. Perbedaan kebudayaan ini memungkinkan terjadinya pertentangan. Apalagi jika masing-masing kelompok sosial atau suku bangsa memiliki sikap chauvinisme yang kuat. Sikap chaivinisme adalah sikap mengagung-agungkan kebudayaan sendiri dan memandang rendah kebudayaan orang lain. Paham chauvinisme inilah yang mendorong munculnya solidaritas in group yang mengarah pada fanatisme kelompok.

3.      Perbedaan antar kepentingan
Setiap individu atau kelompok sosial kadangkala memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Perbedaan kepentingan inilah yang memicu terjadinya pertentangan atau konvlik. Misalnya perbedaan kepentingan antara buruh dan majikan dalam hal upah. Jika buruh menginginkan upah yang tinggi, sedangkan pengusaha pada umumnya menghendaki upah yang relatif rendah untuk meningkatkan keuntungan.
Benturan kepentingan dua kelompok sosial merupakan salah satu penyebab terjadinya pertentangan.


gambar unjuk rasa buruh menuntut kenaikan gaji

4.      Terjadinya perubahan sosial
Perubahan yang cepat dalam kehidupan masyarakat akan menyebabkan pergeseran nilai-nilai yang mengakibatkan guncangan-guncangan dalam masyarakat. Dengan adanya hal-hal baru, masyarakat akan terbelah menjadi dua kelompok, yakni kelompok yang kontra maupun kelompok yang pro. Pada umumnya kelompok golongan tua cenderung akan mempertahankan nilai-nilai dan norma sosial yang sudah ada, sedangkan golongan muda cenderung meninggalkan nilai-niali dan norma lama diganti dengan nilai dan norma baru yang dianggap lebih mewakili aspirasi mereka.

3.      Kontravensi
Kontravensi merupakan bentuk proses sosial yang berada diantara persaingan dan pertentamngan. Kontravensi menunjukan suatu sikap yang mengarah kepada ketidaksenagan.
Bentuk-bentuk kontravensi anatara lain :
1.      Kontravensi intensif, misalnya penghasutan, desas-desus, dan mengecewakan pihak lain.
2.      Kontravensi rahsia, misalnya berkhianat, membuka rahasia orang lain dimuka umum.
3.      Kontravensi taktis, misalnya intimidasi, provokasi, membingungkan lawan, dan sebagainya.
4.      Kontravensi umum, misalnya mengacau pihak lain, berbuat kekerasan, dan sebagainya.
5.      Kontravensi sederhana, misalnya mencaci maki, memfitnah, dan sebagainya.
Adapun tipe-tipe kontravensi meliputi :
1.      Kontravensi jenis kelamin, misalnya perbedaan pendapat anatar kaum perempuan dengan kaum laki-laki.
2.      Kontravensi parlementer, misalnya masalah kelompok mayoritas dengan minoritas.
3.      Kontravensi generasi masyarakat, misalnya perbedaan pendapat antara golongan tua dan muda.




Rangkuman
v  Hubungan sosial adalah hubungan yang dinamis yang menyangkut hubungan antarindividu, antarkelompok,  dan antar oarang dengan kelompok.
v  Hubungan sosial akan berlangsung jika terjadi adanaya kontak sosial dan komunikasi.
v  Ciri-ciri terjadinya hubungan sosial antara lain :
1.     Ada pelaku lebih dari satu orang.
2.    Ada tujuan-tujuan tertentu.
3.    Ada komunikasi antarpelaku dengan memakai simbol-simbol dalam bahasa lisan maupun isyarat.
4.    Ada dimensi waktu (masalalu, sekarang dan masa yang akan datang).
v  Hubungan sosial dapat dibedakan menjadi 2, yaitu proses sosial assosiatif dan proses sosial dissosiatif.
v  Proses assosiatif dapat berbentuk akomodasi, kerja sama, dan asimilasi.
v  Proses dissosiatif ada 3 bentuk, yaitu persaingan, pertentangan, dan kontravensi.
v  Terjadinya proses sosial assosiatif dan dissosiatif masing-masing membawa dampak bagi kehidupan.

 
Kerjakan soal-soal berikut !!
A.    Ayo, pilih jawaban yang tepat sesuai dengan materi hubungan sosial, untuk mengetahui daya serap materimu.
1.      Hubungan sosial dapat terjadi jika terjadi unsur-unsur berikut ini, kecuali..
a.       Komunikasi
b.      Adanya tujuan
c.       Pertemuan dua individu atau lebih
d.      Adanya perestiwa menarik
2.      Pertandingan sepakbola antara dua kesebelasan menunjukan bentuk hubungan sosial...
a.       Kelompok dengan kelompok
b.      Individu dengan individu
c.       Individu dengan kelompok
d.      Kelompok dengan individu
3.      Berikut yang bukan menunjukan wujud interaksi sosial adalah...
a.       Saling mencibir
b.      Berjabat tangan
c.       Saling mengejek
d.      Berteriak-teriak
4.      Upaya untuk mencapai penyelesaian dari suatu konvlik disebut...
a.       Kooperasi
b.      Akomodasi
c.       Kontravensi
d.      Persaingan/kompetisi
5.      Perbedaan pendapat meru[akan penyebab terjadinya...
a.       Adaptasi
b.      B. Kontravensi
c.       Akomodasi
d.      Identifikasi
6.      Gelombang unjuk rasa yang dilakukan oleh karyawan perusahaan swasta yang terkena phk besar-besaran menentut agar pihak perusahaan menyediakan tempat baru bagi mereka. Hal tersebut merupakan bentuk konvlik...
a.       Antarindividu
b.       Antarkelas
c.       Antarkelompok
d.      Antarinstitusi
7.      Penyelesaian konvlik antara kelompok sosial dalam masyarakat melalui proses yang difasilitasi yang dipandu oleh pihak pemerintah merupakan bentuk akomodasi...
a.       Arbitrasi
b.      B. Koersi
c.       Mediasi
d.      Koalisi
8.      Upaya untuk meredakan konvlik antarmasyarakat dengan melakukan penyesuaian perbedaan  disegala bidang merupakan...
a.       Ajudikasi
b.      Asimilasi
c.       Akomodasi
d.      Adaptasi
9.      Tuntutan masyarakat kepada pemerintah untuk mengadakan reformasi disegala bidang karena menganggap bahwa kebijakan pemerintah sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman, merupakan bentuk konvlik...
a.       Antarkepentingan
b.      Antarinstitusi
c.       Antargenerasi
d.      Antarindividu
10.  Suatu bentuk perdebatan dalam proses perjanjian pada pihak-pihak yang bertikai sering disebut sebagai...
a.       Kooptasi
b.      Kompromi
c.       Rekonsiliasi
d.      Koersi

B.     Ayo, jawablah pertanyaan berikut sesuai materi hubungan sosial.
1.      Bagaimanakah ciri-ciri terjadinya hubungan sosial?
2.      Jelaskan akibat terjadinya persaingan dalam kehidupan masyarakat!
3.      Jelaskan dampak terjadinya proses dissosiatif.
4.      Coba jelaskan sisi positif dan negatif dari suatu konflik
5.      Bagaiamanakah syarat terjadinya asimilasi?


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar